Dari Tanah Kembali Ke Tanah

KKK

KKK tertarik untuk merancang instrumen artistik yang memungkinkan warga Jatiwangi, yang merupakan subyek perencanaan , dapat menjadi bagian dalam mewujudkan dokumen RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) Kecamatan Jatiwangi yang tengah disusun Pemerintah Kabupaten Majalengka.

KKK melewati minggu pertamanya dengan berkeliling ke kantor-kantor Desa untuk mengoleksi peta desa di Jatiwangi. Terus menerus berbincang mengenai RDTR, khususnya dengan Jatiwangi art Factory yang sedang mempunyai gagasan Kota Terrakota yang akan dimulai melalui perhelatan Indonesia Contemporary Ceramic Biennale 2019.

Selama residensinya KKK membuat beberapa forum ngobrol dengan berbagai elemen warga Jatiwangi sebagai rangkaian instrumen perencanaan wilayah. Salah satunya adalah Forum Galau; sebuah forum diskusi untuk membicarakan desa dari perspektif yang paling substansial, persoalan cinta. Bagaimana kisah perkembangan desa menggeser makna sebuah cinta? Apa yang bisa dilakukan pemuda menghadapi perubahan realitas yang ada? Lebih jauh lagi, bagaimana mestinya sebuah kawasan dimaknai dalam bingkai perencanaan?

Mereka juga berkeliling menemui komunitas warga lain. Nongkrong dengan anak muda, dan mengunjungi lahan sawah petani muda desa Burujul. Mengoleksi imajinasi – imajinasi tentang wilayah yang begitu beragam.

Setelah berbagai imajinasi tentang Kota Terakota dari berbagai subjek perencana ini terkumpul, KKK kemudian mengkurasi beberapa orang untuk bertemu dengan Bappelitbanda dan Dinas BMCK Kab. Majalengka dan memulai dialog tentang perencanaan tata ruang Jatiwangi terutama terkait gagasan Jatiwangi sebagai Kota Terakota. KKK menamakan pertemuan ini dengan Kisah Ruang 4 (Empat) Babak.

Kisah Ruang 4 (Empat) Babak ini mencoba suatu model percakapan, analisis, sekaligus proyeksi ruang Jatiwangi lewat kisah-kisah personal warga pada tiap siklus hidupnya. Kisah-kisah personal seringkali luput dari proses perencanaan pembangunan suatu wilayah. Bentuk formil dari proses dan keluarannya menempatkan subyek-subyek yang ada di dalamnya (baik pemerintah maupun warga masyarakat) dalam kondisi yang kemudian berjarak dengan realitas keseharian yang ada.

Kumpulan (kompleksitas) detail kehidupan yang mestinya tidak terlewat dalam dokumen formil perencanaan dan penataan ruang, baik itu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.