paririmbon investasi
Dari Tanah Kembali Ke Tanah

Dalam kata pengantarnya pada buku “Frequently Asked Questions On Investment”, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM) menulis seperti ini, “Indonesian economy continues to offer vast potential, thanks to the country’s sustainable economic growth, political stability, large young population, and growing middle class, as well as abundant natural resources. Investment has a large multiplier effect in boosting economic growth, creating job opportunities, and shifting the current consumption-based economy to an economy driven by production.”

  • Thomas Lembong, Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal

    Pada sebuah sore yang lembab di tanah datar bernama Jatiwangi, saya kata pengantar tadi sembari melihat para lelaki yang duduk berjejer di atas motor, menunggu jam pulang kerja sebuah pabrik sepatu milik investor dari Taiwan. Saya juga sempat membayangkan penggalan kata sambutan tadi pada sebuah pagi yang mendung di dalam kereta cepat dari Taipei menuju kota Taichung sambil melihat sepasang pekerja Indonesia yang sedang berpegangan tangan mendengarkan lagu bersama, pada kunjungan saya ke Taiwan januari lalu. Jika boleh menjawab secara gampangan, dampak investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Jatiwangi—saya haqul yaqin memang ada pertumbuhan yang sedang terjadi. Setidaknya kita bisa merasakannya lewat berbagai perubahan yang ada dalam keseharian. Di setiap waktu gajian para pekerja pabrik yang dibangun dari investasi-investasi berskala multinasional, ada pertumbuhan antrian ATM hingga beberapa meter sehingga menghabiskan waktu satu jam untuk menarik setoran lima puluh ribu saja,. Ada juga pertumbuhan kedai-kedai makanan dengan variasi makanan yang lebih beragam seiring beragamnya pula daerah asal para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik baru ini. Belum lagi pertumbuhan rumah kontrakan yang dapat menghasilkan setidaknya tiga juta rupiah untuk sepuluh kamar di setiap bulannya. Mengikuti di belakangnya, pertumbuhan laundry kiloan, kreditan motor, counter pulsa, hingga cinta lokasi. Dan jika pertumbuhan ekonomi adalah persoalan transformasi dengan meninggalkan yang lama dan merayakan yang baru, maka percayalah, bahwa ekonomi Jatiwangi memang sedang melaju, karena pabrik genteng sebagai industri lama yang sudah ada sejak masa kolonial kini perlahan mulai ditinggalkan dan warga ramai-ramai merayakan datangnya gelombang investasi baru. Pun jika laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari meningginya harga tanah namun tetap saja laku keras, maka saya sudah harus menghentikan lamunan saya akan kata sambutan tadi, sebab apa yang dibicarakan oleh Kepala Badan Penanaman Modal memang benar-benar terjadi. Investasi dalam skala besar maupun skala kecil telah menjadi bagian dari keseharian, setidaknya bagi kami di Jatiwangi.

Let Me Tell You The History

Ismal Muntaha. Kepala Badan Kajian Pertanahan

Investasi bukan barang baru bagi Jatiwangi, disadari atau tidak, ia telah lama melekat dalam kehidupan struktur sosial ekonomi warga. Ketika banjir bandang modal pertama terjadi di Hindia Belanda pada dekade akhir abad 19 yang mewujud dalam bentuk perusahaan-perusahaan gula swasta, Jatiwangi kedapatan satu pabrik gula besar. Lahan-lahan persawahan diubah menjadi hamparan perkebunan tebu lengkap dengan buruhnya yang datang dari berbagai daerah. Membuat Jatiwangi menjadi bagian dari dimulainya masa liberalisasi di Indonesia dan terhubung langsung dengan pasar gula global.

Pada awal abad 20, di antara lanskap industri gula, muncul pula investasi lokal dalam bentuk pabrik genteng. Mereka membuat genteng dengan menggunakan tanah yang sama seperti yang digunakan untuk menanam tebu dan padi. Saya curiga, ini adalah reaksi orang Jatiwangi atas imperialisme pabrik gula. Kita tahu bahwa secara kronisi industri gula kolonial di masa liberalisasi melahirkan relasi yang sangat timpang, lebih buruk dari masa tanam paksa. Di mana pemerintah kolonial menerapkan sistem ekonomi dua muka (dualisme). Antropolog Clifford Geertz dalam “Involusi Pertanian” menyebutkan bahwa sistem ini memungkinkan para petani lokal menghasilkan produk terbaik kualitas ekspor, namun di saat yang sama sektor domestik seperti pertanian unit keluarga, industri rumahan dan sedikit perdagangan dalam negeri ditekan agar tidak berkembang. Ketika sektor ekspor berkembang dan meluas akibat peningkatan harga barang dagangan dunia, sektor domestik justru melemah. Tanah dan tenaga kerja tidak lagi dipergunakan untuk mengusahakan padi dan bahan makanan lainnya, tetapi untuk mengusahakan tebu, nila, kopi dan tanaman perdagangan lain. Sebuah usaha untuk menjaga penduduk pribumi agar tetap dalam kepribumiannya  namun dapat menghasilkan produk gula berkelas dunia. Geertz juga mencatat bahwa sektor ekspor ini bersifat kapitalisme administratif, yaitu suatu sistem yang pemegang modalnya—orang orang Belanda—mengatur harga penjualan dan upah, mengontrol pengeluaran, dan bahkan juga mendikte proses produksi.  

Sistem perkebunan besar ini biasanya dimiliki oleh satu keluarga yang tinggal mengelompok di bungalow- tropis nan mungil dan indah di dekat dinding pabrik. Ditopang oleh ribuan petani yang tidak hanya memberikan tanah, namun juga tenaga kerja yang diperlukan untuk membersihkan tanah, menggali lubang, menanam, menebang dan mengangkut tebu ke pabrik. Ditambah tugas tugas tetap lainnya yang menyangkut industri tersebut yang tidak terbilang banyaknya. Pabrik gula di Jatiwangi sendiri mengelola ribuan hektar lahan persawahan warga pribumi untuk ditanami tebu. Dan hanya dijalankan oleh satu keluarga saja yang dikenal dengan istilah Juragan Besar. Keluarga ini dikepalai oleh G.M.W Zuur yang memiliki 11 orang anak dan hampir semuanya lahir di Jatiwangi.

Perjumpaan dengan perusahaan-perusahaan gula raksasa berteknologi tinggi yang berada di tengah persawahan ini tidak sama sekali menjamin kesejahteraan penduduk pribumi. Kekuatan-kekuatan kapitalisme ini semakin masuk langsung ke jantung kehidupan desa. Akibatnya, secara berangsur politik ekonomi kolonial ini—sekalipun diwarnai berbagai kebijakan politik etis—memberikan fondasi pada sejarah privitasisasi lahan di Indonesia yang sambung menyambung dengan sejarah buruh upahan, dan tentu saja sejarah konflik agraria yang kesemua warisannya masih terasa hingga sekarang. 

Penanaman Tebu di Jatiwangi, sekitar tahun 1940

Namun usaha itu tidak berlangsung terlalu lama. Pada tahun 1930 dunia mengalami malaise atau The Great Depression, sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis sebagai akibat dari jatuhnya sistem moneter internasional. Volume perdagangan internasional pun jatuh, yang diikuti oleh terhentinya penanaman modal serta adanya penjualan saham secara masal yang menghancurkan perekonomian negara Industri maupun negara berkembang. Empat tahun setelah itu, pendapatan ekspor Hindia Belanda merosot hingga 70 persen. Keluarga Zuur si Juragan Besar Pabrik Gula Jatiwangi pun secara berangsur harus angkat koper pulang ke negaranya. Pada 1940 Belanda diduduki Jerman dan Hindia Belanda menjadi tanah jajahan tanpa negeri induk. Sementara pabrik genteng semakin banyak tumbuh di Jatiwangi, dan perlahan menjadi industri lokal yang menjanjikan, terutama pada masa setelah kemerdekaan. Pada masa Indonesia mulai memasuki babak baru, masa meniti sebagai bangsa baru, seperti halnya masyarakat Asia Tenggara lainnya.

Proses dekolonisasi paska Perang Dunia II ini ditandai oleh proses nasionalisasi perusahaan asing. Pada proses tersebut, orang-orang pribumi sibuk mengambilalih sektor administrasi, birokrasi dan kekuasaan politis. Sementara peran modern di bidang ekonomi, diambilalih oleh golongan Cina Perantauan yang sejak jaman kolonial memang telah menjadi kelas tersendiri yang memiliki keistimewaan di bidang ekonomi akibat politik segregasi rasial tiga tingkat yang diberlakukan oleh Belanda. Ketika Indonesia memasuki rezim pembangunan Orde Baru yang terbuka pada investasi asing, Cina Perantauan menjadi golongan yang paling terlibat dalam sektor perekonomian sehingga paling banyak mendapat keuntungan. Pada tahun 1970 sebuah perusahaan konstruksi Taiwan mendapatkan proyek pembangunan jalan Tol di Surabaya dan Sumatra. Diikuti dengan pembangunan industrial park hasil kerjasama antara cina perantauan Indonesia dengan para investor Taiwan. Relasi ini ekonomi dengan Taiwan semakin kuat ketika pemerintah Orde Baru membuka kamar dagang Indonesia pertama di Taipei pada tahun 1970.

Jatiwangi Baru

Ideologi pembangunan Orde Baru berdampak besar pada struktur ekonomi Jatiwangi. Kebijakan Kredit Perumahan Rakyat pada REPELITA II Orde Baru mendongkrak permintaan genteng Jatiwangi. Lanskap industri genteng pun kian meluas, yang kemudian melahirkan orang-orang kaya baru. Pengusaha-pengusaha genteng yang mendulang suskes ini tidak lahir dari kaum feodal yang menguasai tanah pada masa kolonial. Seperti Pak Haji Aspin, pendiri pabrik genteng paling modern dan terbesar di Jatiwangi; Abadi Genteng, sebelumnya merupakan seorang penjual tahu. Kebanyakan dari mereka lahir dari kelas pekerja atau para pedagang sektor domestik.

Industri genteng mencapai masa keemasan pada periode akhir 80’an hingga akhir 90’an. Secara eksternal periode ini ditandai oleh meluasnya pasar genteng Jatiwangi, bahkan ke tingkat ekspor. Salah satu negara tujuan ekspor tersebut adalah Brunei Darussalam di mana Pabrik Genteng Abadi menjadi penyuplai utama genteng untuk seluruh program pembangunan negeri monarki yang dipimpin oleh Sultan Hasanah Bolqiah tersebut. Sedangkan secara internal, periode ini memahat berbagai lanskap sosial baru di Jatiwangi; praktek percaloan, premanisme, judi sabung ayam ratusan juta rupiah, belanja mobil-mobil terbaru dan berbagai hedonisme ala lokal lainnya. Namun menariknya, dalam periode emas industri genteng ini, hampir tak ada investasi dari luar Jatiwangi. Kecuali Pabrik Genteng Abadi yang menjalin merger dengan Terreal, sebuah perusahaan genteng multinasional dari Perancis. Akan tetapi itupun tak berlangsung lama. Industri genteng seperti tak terkait sama sekali dengan kapitalisme internasional, namun dari segi domestik ia begitu kuat. Sebuah keadaan yang 180 derajat berbeda dengan masa industri gula kolonial.

Masa keemasan para pencetak uang dari tanah ini, harus berakhir ketika Asia Tenggara dihantam krisis moneter tahun 1997. Tentunya kejatuhan struktur ekonomi Jatiwangi ini tidak berlangsung seketika, namun perlahan tapi pasti. Dari 600-an pabrik genteng pada periode 80-90an, kini tinggal 120an yang masih bertahan. Saat ini, secara struktural, masuknya berbagai macam investasi baru sebagai bagian dari wacana Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi salah satu kebijakan yang memungkinkan industri genteng tergantikan oleh jenis industri baru seperti tekstil, garmen, dan manufaktur lainnya yang dapat menampung ribuan pekerja setiap pabriknya. Bahwa modal-modal besar ini terus mewujud melalui privatisasi lahan merupakan sesuatu yang niscaya.  Jatiwangi kembali menjadi bagian dari gelombang investasi global. Pabrik-pabrik besar yang telah berdiri di Jatiwangi sebagian besar dimiliki oleh Investor dari Taiwan. Cocok dengan kenyataan bahwa Pemerintah Taiwan mulai berpikir untuk membuat Taiwan lebih ‘hijau’ dengan memindahkan pabrik-pabrik ke Negara-Negara Asia Tenggara, dan Indonesia memang menjadi salah satu sasaran Investasi paling menjanjikan. Negara kemudian memfasilitasi dengan kebijakan reformasi investasi yang memungkinkan para investor mendapat kemudahan proses perijinan investasi serta berbagai insentif pajak bagi para investor.

Why Does It Matter And Why This Form?

Sejarah telah memberitahu bahwa investasi adalah perkara struktural dan sangat dipengaruhi oleh rezim seperti apa yang tengah berkuasa. Ia seakan tercerabut dari konteks sosio-kultural tempat investasi itu ditanamkan. Terlepas dari urusan kewargaan. Adapun keterlibatanya selalu bersifat hierarkis dan warga berada di rantai penghisapan paling bawah. Pertanyaanya, adakah enklave dari investasi ini yang memiliki celah untuk diintervensi melalui sebuah narasi yang berbeda? Dengan cara yang bagaimana?

Departemen Investasi alternatif ini berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagai sebuah departemen, Paririmbon Investasi ingin bereksperimentasi dengan semangat intervensi melalui cara artistik. Setidaknya sampai saat ini, saya membayangkan dua bentuk dalam merespon gelombang investasi yang masuk ke Jatiwangi, wabilkhusus investasi dari Taiwan. Bentuk pertama adalah membuat buku panduan investasi sebagai pendamping dari buku panduan investasi yang dibuat oleh Pemerintah. Buku ini coba menspekulasikan dimensi spritualitas masyarakat Taiwan dan Indonesia terhadap laku investasi melalui berbagai pendekatan seperti; Feng Shui, Astrologi, Klenik, ritual, doa-doa dsb yang memang menjadi bagian dari kehidupan kultural-spiritual masyarakat Taiwan dan Indonesia.

Bentuk kedua adalah menawarkan tatanan investasi yang lain dari investasi dalam pengertian pemerintah. Untuk itu, saya akan berperan seperti halnya Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI) dalam menfasilitasi dan menawarkan berbagai macam investasi alternatif. Baiklah saya akan mulai menjelaskan tentang kedua bentuk ini lebih rinci.

Buku Paririmbon Investasi

Wirid-Panen, Ritual Panen dalam Supranatural Farming; 2019

Buku panduan investasi ini akan coba mengeksperimentasikan berbagai pendekatan kultural-spritual untuk menambah beban supernatural kepada Investor. Memperpanjang  proses Investasi dengan berbagai laku etis. Menghubungkan berbagai aspek kultural yang ada di sekitar wilayah investasi, sebagai pertimbangan cara pandang dalam berinvestasi yang lebih inklusif. Buku ini akan menyasar para investor-investor besar yang berinvestasi melalui jalur utama (Pemerintah). Untuk itu kami akan bekerjasama dengan KDEI untuk mendistribusikan buku ini dan menjadi buku pendamping dari buku panduan investasi yang dibuat pemerintah Indonesia.

Buku ini akan disusun secara kolektif melalui rangkaian workshop di Taiwan dan Indonesia bersama berbagai macam partisipan; seniman, curator, peneliti, pebisnis, strart uper, petani, tokoh masyarakat dan tentu saja Fengshui Master dan Astrologi Master. Adapun draft konten dari buku panduan ini adalah sebagai berikut:

I. Kata Pengantar dari Chairman  Paririmbon Investasi Department
   Mr. Ismal Muntaha
   Kata Pengantar dari Chief of Investment Department KDEI
   Mr. Mohammad Firdaus

II. About Jatiwangi
Selain memuat informasi umum tentang Jatiwangi, bab ini juga akan secara mendalam memuat informasi mengenai Jatiwangi dari pembacaan astrologi yang dihitung berdasarkan garis lintang dan bujur Jatiwangi. Pembacaan astrologi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi mereka yang tertarik melakukan investasi di Jatiwangi. Selain itu, kami juga akan membahas konteks sosio-kultural dari Jatiwangi terutama mengenai keberadaan Jatiwangi art Factory yang sejak satu dekade terakhir cukup intensif membangun kesadaran berwilayah lewat peristiwa budaya dan seni. Terakhir adalah informasi mengenai konteks spritual atau mitos-mitos lokal yang ada di Jatiwangi sebagai penguat aspek kultural dalam membangun Jatiwangi. Bagi kami konteks mitos lokal terutama keberadaan arwah leluhur merupakan salah satu stakeholder yang penting dalam membangun Jatiwangi dan merupakan bagian dari intagible heritage.

III. How To Make an Investment in Jatiwangi (FAQ)
Akan memuat berbagai petunjuk mengenai etika berinvestasi di Jatiwangi, terutama berkaitan bagaimana membangun relasi yang baik dengan tetangga. Tata cara ini diambil dari kepercayaan lokal masyarakat Jatiwangi yang disenergikan dengan dimensi spiritual masyarakat Taiwan. Diantaranya akan berangkat dari beberapa pertanyaan di bawah ini;

a) How to build a factory in Jatiwangi?
Jika hendak membuat pabrik di Jatiwangi ada beberapa prasyarat yang harus ditempuh, diantaranya; Pertama Anda harus membuat pagelaran wayang kulit di desa atau pemukiman terdekat dengan lokasi pabrik, sebagai upaya membangun dialog dengan warga yang akan menjadi tentangga dari pabrik yang akan Anda bangun. Kedua, pabrik yang dibangun juga harus berdasarkan perhitungan fengshui yang sangat mempertimbangkan prinsip keseimbangan. Ketiga, Anda juga harus menempuh ritual Ngajimatan Taneuh yang berfungsi sebagai permohonan ijin terhadap leluhur yang mendiami tanah tempat pabrik Anda dibangun. Banyak kejadian para arwah leluhur marah karena para investro tidak melakukan ritual memohon izin ketika membangun sebuah pabrik. Dan hal tersebut menyebabkan terjadinya kesurupan massal yang menimpa para pekerja. Seperti yang terjadi ti PT. Shinwo Mulia- Jatiwangi (Pabrik Garment). Bahkan menurut salahs seorang pekerja, itu terjadi hampir tiap minggu.

b) How to open a factory in Jatiwangi?
Setelah anda membangun pabrik berdasarkan prasyarat di atas, ada beberapa ritual lagi yang harus ditempuh ketika Anda hendak membuka atau meresmikan pabrik tersebut. Diantaranya ; Ritual membagi tumpeng ke tetangga, ritual mendoakan pabrik, dan berbagai tarian tradisional sebagai bentuk penghormatan atas leluhur

c) Other Ritual Requirements
Memuat informasi mengenai berbagai jenis ritual sebagai prasyarat untuk menjaga investasi Anda tetap aman dan lancar, diantaranya;
Melakukan senam Taichi minimal seminggu sekali bersama Karyawan. Menanam satu pohon jati setiap malam cap go.

IV. Investment Sector Based on Wu Xing
Wu Xing atau Five Elements merupakan filosofi dasar dari berbagai macam ilmu terapan dalam tradisi China, karena ia dianggap mewakili berbagai elemen yang ada dalam konstelasi semesta ini dan sangat mengandung prinsip keseimbangan. Untuk itu kami akan membuat workshop khusus dengan para ahli di Taiwan untuk merancangan sektor investasi berdasarkan prinsip Wu Xing ini.

V. Do and Don’t When You Invest in Jatiwangi
Pada bab ini kami akan memuat hal-hal apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan ketika berinvestasi di Jatiwangi berdasarkan dua pendekatan; pembacaan zodiac dari calon investor dan berdasarkan kepercayaan lokal. Seperti misalnya, dalam tradisi lokal Jatiwangi atau lebih luasnya tradisi sunda bahkan Jawa, kami mengenal istilah Pamali. Satu istilah untuk hal-hal yang dianggap kurang baik jika dilakukan karena dapat menyebabkan hal buruk terjadi.

VI. Tips and Trick to Avoid Bad Luck
Seperti kita ketahui, hal-hal buruk terkadang sering terjadi, bahkan diluar nalar kita. Berikut adalah contoh kiat-kiat bagaimana agar investasi Anda terhindar dari berbagai macam kesialan terutama ketika pabrik Anda telah berdiri; Jangan memindahkan karyawan ke kota lain, tanpa menggelar ritual pagelaran wayang kulit

Paket Investasi

Sebagai departement, Paririmbon Investasi tertarik untuk membuat tatanan investasi yang lain, baik secara gagasan hingga memfasilitasi investasi alternatif ini terwujud. Departemen ini akan mengundang para stakeholder seni kontemporer Taiwan baik itu kolektor, museum, galeri, organisasi/institusi seni, kolektif seni, kurator hingga seniman untuk berinvestasi di Jatiwangi. Secara spesifik investasi yang ditawarkan akan berangkat dari model bisnis yang telah dijalankan oleh warga.  Artinya posisi warga disini adalah sebagai mitra bisnis, bukan sebagai pekerja. Para investor akan mendapatkan pembagian keuntungan berdasarkan bentuk investasi yang dipilih serta besarannya. Adapun bentuk investasi yang ditawarkan akan coba me-mimikri jenis yang biasa ditawarkan oleh pemerintah, namun secara konten kami modifikasi sedemikian rupa agar lebih eksperimentatif

Dalam istilah pemerintah, investasi padat modal adalah investasi dengan modal yang besar dan teknologi tinggi. Akan tetapi Padat Modal dalam pengertian kami justru investasi dengan modal yang tidak besar namun bermartabat. Artinya modal investasi ini akan jatuh pada bisnis-bisnis yag dikelola secara kolektif oleh warga bukan perorangan.

Bentuk lainnya yang kami tawarkan adalah investasi yang bersifat non kapital, lebih tepatnya dalam bentuk keahlian atau gagasan. Contoh, seorang seniman dapat berinvestasi dengan meluangkan waktu, tenaga, keahlian atau gagasanya untuk mengembangkan bisnis warga dengan lebih imajinatif. Secara bentuk model investasi ini mengadopsi program residensi seniman, bedanya seniman akan tetap mendapatkan profit sharing dengan besaran yang telah disepakati. Untuk itu kami selaku departement akan membuat kartu saham bagi mereka yang tertarik berinvestasi dalam bentuk padat karya. 

Berikut adalah beberapa paket investasi yang kami tawarkan, berangkat dari berbagai bisnis warga yang dikelola secara kolektif :

  1. Supranatural Farming
    An agribusiness that is managed in kinship and organic-supernatural. Where each process lived with many rituals and compassion. In an effort to achieve self-sufficiency in the village, which is based on a bond and a new perspective on the process of land. Lahan pertanian ini tidak besar, hanya seluas 1400 meter persegi namun dikelola secara kolektif dengan penuh ritual diatas tanah sengketa antara warga Kampung Wates dan TNI AU. Untuk itu dengan berinvestasi dalam pertanian ini Anda juga berarti sedang berjuang bersama warga Kampung Wates dalam membuat klaim secara kultural atas tanah Wates yang selama ini terkena klaim oleh pihak TNI AU.Kami telah menjalaninya selama dua kali musim tanam dengan komoditi tanam berupa beras hitam yang juga dapat berfungsi sebagai obat diabetes, jantung hingga kanker. Pada setiap panen rata-rata kami mendapatkan hasil sebanyak 500kg dengan harga jual Rp.80.000/kg.Kami menawarkan pembagian pendapatan sebesar 30% dengan total nilai investasi sebesar Rp. 100.000.000
  2. Soil Modular
    Pabrik bata atau produk modular yang ramah lingkungan karena terbuat dari tanah dan campuran limbah padi serta tidak perlu dibakar.  Pabrik ini terbagi dalam berbagai industri rumahan yang tersebar di berbagai desa dan memanfaatkan waktu luang dari bertani.
  3. Jatiwangi Roof Tiles Museum
    Museum Genteng Jatiwangi adalah sebuah wadah untuk upaya-upaya penelitian, perjuangan, dan pembaharuan tanah di Jatiwangi. Museum Genteng Jatiwangi bergerak bersama praktisi genteng (pekerja maupun pemilik pabrik genteng) untuk perlahan mengumpulkan dan mencatat data serta fakta terkait pergentengan ini. Untuk bisa berbicara soal tanah dengan lebih bermartabat, Museum Genteng Jatiwangi yakin bahwa genteng adalah hal pertama yang layak dibicarakan.
  4. Saung CiranggonSaung Ciranggon merupakan sebuah restoran yang dikelola secara kolektif oleh masyarakat Kampung Wates. Bahan pangan yang dipakai di restoran ini diambil dari sayuran yang ditanam oleh warga dengan memanfaatkan lahan di pekaranganya. Menu-menu yang disajikan pun merupakan resep-resep andalan tetangga. Jadi setiap keluarga yang memiliki resep andalan akan dijadikan menu dari restoran dengan sistem bagi hasil secara merata dari seluruh keuntungan.
  5. Earth Housing Project
    Sebuah bisnis kontraktor perumahan warga yang dikelola secara kolektif oleh satu RW dan dipandu oleh satu biro arsitek tanah. Bisnis ini menangani pembangunan rumah ramah lingkungan dengan menggunakan tehnik rammed earth. Yakni membangun rumah menggunakan tanah dari lahan dimana rumah itu akan dibangun dengan komposisi semen hanya sebesar 1%.

    6. Make Your Investment
    Yes, you can make your own investment as long as it can be an inclusive form of business and make Jatiwangi residents as partners, not a workers.

We hope that this guidance can offer a better understanding of investing in Jatiwangi. We understood that there are still many needed to be improved – as mentioneded, it will be part of collective working through a series of workshop. Finally, we invite you to explore the opportunities to invest Jatiwangi as an art practitioner. Paririmbon Investasi Department is ready and more than happy to assist you.

Jatiwangi, March 2019

Chairman of Paririmbon Investasi

Ismal Muntaha

Through his foreword in the book of “Frequently Asked Questions On Investment”, The Chairman of Indonesia Investment Coordinating Board (Badan Koordinasi Penanaman Modal or BKPM) wrote that Indonesian economy continues to offer vast potential, thanks to the country’s sustainable economic growth, political stability, large young population, and growing middle class, as well as abundant natural resources. Investment has a large multiplier effect in boosting economic growth, creating job opportunities, and shifting the current consumption-based economy to an economy driven by production.

  • Pada sebuah sore yang lembab di tanah datar bernama Jatiwangi, saya membayangkan itu semua sembari melihat para lelaki yang duduk berjejer di atas motor, menunggu jam pulang kerja sebuah pabrik sepatu milik investor dari Taiwan. Saya juga sempat membayangkan penggalan kata sambutan tadi pada sebuah pagi yang mendung di dalam kereta cepat dari Taipei menuju kota Taichung sambil melihat sepasang pekerja Indonesia yang sedang berpegangan tangan mendengarkan lagu bersama, pada kunjungan saya ke Taiwan januari lalu. Jika boleh menjawab secara gampangan, dampak investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Jatiwangi—saya haqul yaqin memang ada pertumbuhan yang sedang terjadi. Setidaknya kita bisa merasakannya lewat berbagai perubahan yang ada dalam keseharian. Di setiap waktu gajian para pekerja pabrik yang dibangun dari investasi-investasi berskala multinasional, ada pertumbuhan antrian ATM hingga beberapa meter sehingga menghabiskan waktu satu jam untuk menarik setoran lima puluh ribu saja,. Ada juga pertumbuhan kedai-kedai makanan dengan variasi makanan yang lebih beragam seiring beragamnya pula daerah asal para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik baru ini. Belum lagi pertumbuhan rumah kontrakan yang dapat menghasilkan setidaknya tiga juta rupiah untuk sepuluh kamar di setiap bulannya. Mengikuti di belakangnya, pertumbuhan laundry kiloan, kreditan motor, counter pulsa, hingga cinta lokasi. Dan jika pertumbuhan ekonomi adalah persoalan transformasi dengan meninggalkan yang lama dan merayakan yang baru, maka percayalah, bahwa ekonomi Jatiwangi memang sedang melaju, karena pabrik genteng sebagai industri lama yang sudah ada sejak masa kolonial kini perlahan mulai ditinggalkan dan warga ramai-ramai merayakan datangnya gelombang investasi baru. Pun jika laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari meningginya harga tanah namun tetap saja laku keras, maka saya sudah harus menghentikan lamunan saya akan kata sambutan tadi, sebab apa yang dibicarakan oleh Kepala Badan Penanaman Modal memang benar-benar terjadi. Investasi dalam skala besar maupun skala kecil telah menjadi bagian dari keseharian, setidaknya bagi kami di Jatiwangi.

Let Me Tell You The History

Investasi bukan barang baru bagi Jatiwangi, disadari atau tidak, ia telah lama melekat dalam kehidupan struktur sosial ekonomi warga. Ketika banjir bandang modal pertama terjadi di Hindia Belanda pada dekade akhir abad 19 yang mewujud dalam bentuk perusahaan-perusahaan gula swasta, Jatiwangi kedapatan satu pabrik gula besar. Lahan-lahan persawahan diubah menjadi hamparan perkebunan tebu lengkap dengan buruhnya yang datang dari berbagai daerah. Membuat Jatiwangi menjadi bagian dari dimulainya masa liberalisasi di Indonesia dan terhubung langsung dengan pasar gula global.

Pada awal abad 20, di antara lanskap industri gula, muncul pula investasi lokal dalam bentuk pabrik genteng. Mereka membuat genteng dengan menggunakan tanah yang sama seperti yang digunakan untuk menanam tebu dan padi. Saya curiga, ini adalah reaksi orang Jatiwangi atas imperialisme pabrik gula. Kita tahu bahwa secara kronisi industri gula kolonial di masa liberalisasi melahirkan relasi yang sangat timpang, lebih buruk dari masa tanam paksa. Di mana pemerintah kolonial menerapkan sistem ekonomi dua muka (dualisme). Antropolog Clifford Geertz dalam “Involusi Pertanian” menyebutkan bahwa sistem ini memungkinkan para petani lokal menghasilkan produk terbaik kualitas ekspor, namun di saat yang sama sektor domestik seperti pertanian unit keluarga, industri rumahan dan sedikit perdagangan dalam negeri ditekan agar tidak berkembang. Ketika sektor ekspor berkembang dan meluas akibat peningkatan harga barang dagangan dunia, sektor domestik justru melemah. Tanah dan tenaga kerja tidak lagi dipergunakan untuk mengusahakan padi dan bahan makanan lainnya, tetapi untuk mengusahakan tebu, nila, kopi dan tanaman perdagangan lain. Sebuah usaha untuk menjaga penduduk pribumi agar tetap dalam kepribumiannya  namun dapat menghasilkan produk gula berkelas dunia. Geertz juga mencatat bahwa sektor ekspor ini bersifat kapitalisme administratif, yaitu suatu sistem yang pemegang modalnya—orang orang Belanda—mengatur harga penjualan dan upah, mengontrol pengeluaran, dan bahkan juga mendikte proses produksi.  

Sistem perkebunan besar ini biasanya dimiliki oleh satu keluarga yang tinggal mengelompok di bungalow- tropis nan mungil dan indah di dekat dinding pabrik. Ditopang oleh ribuan petani yang tidak hanya memberikan tanah, namun juga tenaga kerja yang diperlukan untuk membersihkan tanah, menggali lubang, menanam, menebang dan mengangkut tebu ke pabrik. Ditambah tugas tugas tetap lainnya yang menyangkut industri tersebut yang tidak terbilang banyaknya. Pabrik gula di Jatiwangi sendiri mengelola ribuan hektar lahan persawahan warga pribumi untuk ditanami tebu. Dan hanya dijalankan oleh satu keluarga saja yang dikenal dengan istilah Juragan Besar. Keluarga ini dikepalai oleh G.M.W Zuur yang memiliki 11 orang anak dan hampir semuanya lahir di Jatiwangi.

Perjumpaan dengan perusahaan-perusahaan gula raksasa berteknologi tinggi yang berada di tengah persawahan ini tidak sama sekali menjamin kesejahteraan penduduk pribumi. Kekuatan-kekuatan kapitalisme ini semakin masuk langsung ke jantung kehidupan desa. Akibatnya, secara berangsur politik ekonomi kolonial ini—sekalipun diwarnai berbagai kebijakan politik etis—memberikan fondasi pada sejarah privitasisasi lahan di Indonesia yang sambung menyambung dengan sejarah buruh upahan, dan tentu saja sejarah konflik agraria yang kesemua warisannya masih terasa hingga sekarang. 

Penanaman Tebu di Jatiwangi, sekitar tahun 1940

Namun usaha itu tidak berlangsung terlalu lama. Pada tahun 1930 dunia mengalami malaise atau The Great Depression, sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis sebagai akibat dari jatuhnya sistem moneter internasional. Volume perdagangan internasional pun jatuh, yang diikuti oleh terhentinya penanaman modal serta adanya penjualan saham secara masal yang menghancurkan perekonomian negara Industri maupun negara berkembang. Empat tahun setelah itu, pendapatan ekspor Hindia Belanda merosot hingga 70 persen. Keluarga Zuur si Juragan Besar Pabrik Gula Jatiwangi pun secara berangsur harus angkat koper pulang ke negaranya. Pada 1940 Belanda diduduki Jerman dan Hindia Belanda menjadi tanah jajahan tanpa negeri induk. Sementara pabrik genteng semakin banyak tumbuh di Jatiwangi, dan perlahan menjadi industri lokal yang menjanjikan, terutama pada masa setelah kemerdekaan. Pada masa Indonesia mulai memasuki babak baru, masa meniti sebagai bangsa baru, seperti halnya masyarakat Asia Tenggara lainnya.

Proses dekolonisasi paska Perang Dunia II ini ditandai oleh proses nasionalisasi perusahaan asing. Pada proses tersebut, orang-orang pribumi sibuk mengambilalih sektor administrasi, birokrasi dan kekuasaan politis. Sementara peran modern di bidang ekonomi, diambilalih oleh golongan Cina Perantauan yang sejak jaman kolonial memang telah menjadi kelas tersendiri yang memiliki keistimewaan di bidang ekonomi akibat politik segregasi rasial tiga tingkat yang diberlakukan oleh Belanda. Ketika Indonesia memasuki rezim pembangunan Orde Baru yang terbuka pada investasi asing, Cina Perantauan menjadi golongan yang paling terlibat dalam sektor perekonomian sehingga paling banyak mendapat keuntungan. Pada tahun 1970 sebuah perusahaan konstruksi Taiwan mendapatkan proyek pembangunan jalan Tol di Surabaya dan Sumatra. Diikuti dengan pembangunan industrial park hasil kerjasama antara cina perantauan Indonesia dengan para investor Taiwan. Relasi ini ekonomi dengan Taiwan semakin kuat ketika pemerintah Orde Baru membuka kamar dagang Indonesia pertama di Taipei pada tahun 1970.

Jatiwangi Baru

Ideologi pembangunan Orde Baru berdampak besar pada struktur ekonomi Jatiwangi. Kebijakan Kredit Perumahan Rakyat pada REPELITA II Orde Baru mendongkrak permintaan genteng Jatiwangi. Lanskap industri genteng pun kian meluas, yang kemudian melahirkan orang-orang kaya baru. Pengusaha-pengusaha genteng yang mendulang suskes ini tidak lahir dari kaum feodal yang menguasai tanah pada masa kolonial. Seperti Pak Haji Aspin, pendiri pabrik genteng paling modern dan terbesar di Jatiwangi; Abadi Genteng, sebelumnya merupakan seorang penjual tahu. Kebanyakan dari mereka lahir dari kelas pekerja atau para pedagang sektor domestik.

Industri genteng mencapai masa keemasan pada periode akhir 80’an hingga akhir 90’an. Secara eksternal periode ini ditandai oleh meluasnya pasar genteng Jatiwangi, bahkan ke tingkat ekspor. Salah satu negara tujuan ekspor tersebut adalah Brunei Darussalam di mana Pabrik Genteng Abadi menjadi penyuplai utama genteng untuk seluruh program pembangunan negeri monarki yang dipimpin oleh Sultan Hasanah Bolqiah tersebut. Sedangkan secara internal, periode ini memahat berbagai lanskap sosial baru di Jatiwangi; praktek percaloan, premanisme, judi sabung ayam ratusan juta rupiah, belanja mobil-mobil terbaru dan berbagai hedonisme ala lokal lainnya. Namun menariknya, dalam periode emas industri genteng ini, hampir tak ada investasi dari luar Jatiwangi. Kecuali Pabrik Genteng Abadi yang menjalin merger dengan Terreal, sebuah perusahaan genteng multinasional dari Perancis. Akan tetapi itupun tak berlangsung lama. Industri genteng seperti tak terkait sama sekali dengan kapitalisme internasional, namun dari segi domestik ia begitu kuat. Sebuah keadaan yang 180 derajat berbeda dengan masa industri gula kolonial.

Masa keemasan para pencetak uang dari tanah ini, harus berakhir ketika Asia Tenggara dihantam krisis moneter tahun 1997. Tentunya kejatuhan struktur ekonomi Jatiwangi ini tidak berlangsung seketika, namun perlahan tapi pasti. Dari 600-an pabrik genteng pada periode 80-90an, kini tinggal 120an yang masih bertahan. Saat ini, secara struktural, masuknya berbagai macam investasi baru sebagai bagian dari wacana Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi salah satu kebijakan yang memungkinkan industri genteng tergantikan oleh jenis industri baru seperti tekstil, garmen, dan manufaktur lainnya yang dapat menampung ribuan pekerja setiap pabriknya. Bahwa modal-modal besar ini terus mewujud melalui privatisasi lahan merupakan sesuatu yang niscaya.  Jatiwangi kembali menjadi bagian dari gelombang investasi global. Pabrik-pabrik besar yang telah berdiri di Jatiwangi sebagian besar dimiliki oleh Investor dari Taiwan. Cocok dengan kenyataan bahwa Pemerintah Taiwan mulai berpikir untuk membuat Taiwan lebih ‘hijau’ dengan memindahkan pabrik-pabrik ke Negara-Negara Asia Tenggara, dan Indonesia memang menjadi salah satu sasaran Investasi paling menjanjikan. Negara kemudian memfasilitasi dengan kebijakan reformasi investasi yang memungkinkan para investor mendapat kemudahan proses perijinan investasi serta berbagai insentif pajak bagi para investor.

Why Does It Matter And Why This Form?

Sejarah telah memberitahu bahwa investasi adalah perkara struktural dan sangat dipengaruhi oleh rezim seperti apa yang tengah berkuasa. Ia seakan tercerabut dari konteks sosio-kultural tempat investasi itu ditanamkan. Terlepas dari urusan kewargaan. Adapun keterlibatanya selalu bersifat hierarkis dan warga berada di rantai penghisapan paling bawah. Pertanyaanya, adakah enklave dari investasi ini yang memiliki celah untuk diintervensi melalui sebuah narasi yang berbeda? Dengan cara yang bagaimana?

Departemen Investasi alternatif ini berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagai sebuah departemen, Paririmbon Investasi ingin bereksperimentasi dengan semangat intervensi melalui cara artistik. Setidaknya sampai saat ini, saya membayangkan dua bentuk dalam merespon gelombang investasi yang masuk ke Jatiwangi, wabilkhusus investasi dari Taiwan. Bentuk pertama adalah membuat buku panduan investasi sebagai pendamping dari buku panduan investasi yang dibuat oleh Pemerintah. Buku ini coba menspekulasikan dimensi spritualitas masyarakat Taiwan dan Indonesia terhadap laku investasi melalui berbagai pendekatan seperti; Feng Shui, Astrologi, Klenik, ritual, doa-doa dsb yang memang menjadi bagian dari kehidupan kultural-spiritual masyarakat Taiwan dan Indonesia.

Bentuk kedua adalah menawarkan tatanan investasi yang lain dari investasi dalam pengertian pemerintah. Untuk itu, saya akan berperan seperti halnya Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI) dalam menfasilitasi dan menawarkan berbagai macam investasi alternatif. Baiklah saya akan mulai menjelaskan tentang kedua bentuk ini lebih rinci.

Buku Paririmbon Investasi

Wirid-Panen, Ritual Panen dalam Supranatural Farming; 2019

Buku panduan investasi ini akan coba mengeksperimentasikan berbagai pendekatan kultural-spritual untuk menambah beban supernatural kepada Investor. Memperpanjang  proses Investasi dengan berbagai laku etis. Menghubungkan berbagai aspek kultural yang ada di sekitar wilayah investasi, sebagai pertimbangan cara pandang dalam berinvestasi yang lebih inklusif. Buku ini akan menyasar para investor-investor besar yang berinvestasi melalui jalur utama (Pemerintah). Untuk itu kami akan bekerjasama dengan KDEI untuk mendistribusikan buku ini dan menjadi buku pendamping dari buku panduan investasi yang dibuat pemerintah Indonesia.

Buku ini akan disusun secara kolektif melalui rangkaian workshop di Taiwan dan Indonesia bersama berbagai macam partisipan; seniman, curator, peneliti, pebisnis, strart uper, petani, tokoh masyarakat dan tentu saja Fengshui Master dan Astrologi Master. Adapun draft konten dari buku panduan ini adalah sebagai berikut:

I. Kata Pengantar dari Chairman  Paririmbon Investasi Department
   Mr. Ismal Muntaha
   Kata Pengantar dari Chief of Investment Department KDEI
   Mr. Mohammad Firdaus

II. About Jatiwangi
Selain memuat informasi umum tentang Jatiwangi, bab ini juga akan secara mendalam memuat informasi mengenai Jatiwangi dari pembacaan astrologi yang dihitung berdasarkan garis lintang dan bujur Jatiwangi. Pembacaan astrologi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi mereka yang tertarik melakukan investasi di Jatiwangi. Selain itu, kami juga akan membahas konteks sosio-kultural dari Jatiwangi terutama mengenai keberadaan Jatiwangi art Factory yang sejak satu dekade terakhir cukup intensif membangun kesadaran berwilayah lewat peristiwa budaya dan seni. Terakhir adalah informasi mengenai konteks spritual atau mitos-mitos lokal yang ada di Jatiwangi sebagai penguat aspek kultural dalam membangun Jatiwangi. Bagi kami konteks mitos lokal terutama keberadaan arwah leluhur merupakan salah satu stakeholder yang penting dalam membangun Jatiwangi dan merupakan bagian dari intagible heritage.

III. How To Make an Investment in Jatiwangi (FAQ)
Akan memuat berbagai petunjuk mengenai etika berinvestasi di Jatiwangi, terutama berkaitan bagaimana membangun relasi yang baik dengan tetangga. Tata cara ini diambil dari kepercayaan lokal masyarakat Jatiwangi yang disenergikan dengan dimensi spiritual masyarakat Taiwan. Diantaranya akan berangkat dari beberapa pertanyaan di bawah ini;

a) How to build a factory in Jatiwangi?
Jika hendak membuat pabrik di Jatiwangi ada beberapa prasyarat yang harus ditempuh, diantaranya; Pertama Anda harus membuat pagelaran wayang kulit di desa atau pemukiman terdekat dengan lokasi pabrik, sebagai upaya membangun dialog dengan warga yang akan menjadi tentangga dari pabrik yang akan Anda bangun. Kedua, pabrik yang dibangun juga harus berdasarkan perhitungan fengshui yang sangat mempertimbangkan prinsip keseimbangan. Ketiga, Anda juga harus menempuh ritual Ngajimatan Taneuh yang berfungsi sebagai permohonan ijin terhadap leluhur yang mendiami tanah tempat pabrik Anda dibangun. Banyak kejadian para arwah leluhur marah karena para investro tidak melakukan ritual memohon izin ketika membangun sebuah pabrik. Dan hal tersebut menyebabkan terjadinya kesurupan massal yang menimpa para pekerja. Seperti yang terjadi ti PT. Shinwo Mulia- Jatiwangi (Pabrik Garment). Bahkan menurut salahs seorang pekerja, itu terjadi hampir tiap minggu.

b) How to open a factory in Jatiwangi?
Setelah anda membangun pabrik berdasarkan prasyarat di atas, ada beberapa ritual lagi yang harus ditempuh ketika Anda hendak membuka atau meresmikan pabrik tersebut. Diantaranya ; Ritual membagi tumpeng ke tetangga, ritual mendoakan pabrik, dan berbagai tarian tradisional sebagai bentuk penghormatan atas leluhur

c) Other Ritual Requirements
Memuat informasi mengenai berbagai jenis ritual sebagai prasyarat untuk menjaga investasi Anda tetap aman dan lancar, diantaranya;
Melakukan senam Taichi minimal seminggu sekali bersama Karyawan. Menanam satu pohon jati setiap malam cap go.

IV. Investment Sector Based on Wu Xing
Wu Xing atau Five Elements merupakan filosofi dasar dari berbagai macam ilmu terapan dalam tradisi China, karena ia dianggap mewakili berbagai elemen yang ada dalam konstelasi semesta ini dan sangat mengandung prinsip keseimbangan. Untuk itu kami akan membuat workshop khusus dengan para ahli di Taiwan untuk merancangan sektor investasi berdasarkan prinsip Wu Xing ini.

V. Do and Don’t When You Invest in Jatiwangi
Pada bab ini kami akan memuat hal-hal apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan ketika berinvestasi di Jatiwangi berdasarkan dua pendekatan; pembacaan zodiac dari calon investor dan berdasarkan kepercayaan lokal. Seperti misalnya, dalam tradisi lokal Jatiwangi atau lebih luasnya tradisi sunda bahkan Jawa, kami mengenal istilah Pamali. Satu istilah untuk hal-hal yang dianggap kurang baik jika dilakukan karena dapat menyebabkan hal buruk terjadi.

VI. Tips and Trick to Avoid Bad Luck
Seperti kita ketahui, hal-hal buruk terkadang sering terjadi, bahkan diluar nalar kita. Berikut adalah contoh kiat-kiat bagaimana agar investasi Anda terhindar dari berbagai macam kesialan terutama ketika pabrik Anda telah berdiri; Jangan memindahkan karyawan ke kota lain, tanpa menggelar ritual pagelaran wayang kulit

Paket Investasi

Sebagai departement, Paririmbon Investasi tertarik untuk membuat tatanan investasi yang lain, baik secara gagasan hingga memfasilitasi investasi alternatif ini terwujud. Departemen ini akan mengundang para stakeholder seni kontemporer Taiwan baik itu kolektor, museum, galeri, organisasi/institusi seni, kolektif seni, kurator hingga seniman untuk berinvestasi di Jatiwangi. Secara spesifik investasi yang ditawarkan akan berangkat dari model bisnis yang telah dijalankan oleh warga.  Artinya posisi warga disini adalah sebagai mitra bisnis, bukan sebagai pekerja. Para investor akan mendapatkan pembagian keuntungan berdasarkan bentuk investasi yang dipilih serta besarannya. Adapun bentuk investasi yang ditawarkan akan coba me-mimikri jenis yang biasa ditawarkan oleh pemerintah, namun secara konten kami modifikasi sedemikian rupa agar lebih eksperimentatif

Dalam istilah pemerintah, investasi padat modal adalah investasi dengan modal yang besar dan teknologi tinggi. Akan tetapi Padat Modal dalam pengertian kami justru investasi dengan modal yang tidak besar namun bermartabat. Artinya modal investasi ini akan jatuh pada bisnis-bisnis yag dikelola secara kolektif oleh warga bukan perorangan.

Bentuk lainnya yang kami tawarkan adalah investasi yang bersifat non kapital, lebih tepatnya dalam bentuk keahlian atau gagasan. Contoh, seorang seniman dapat berinvestasi dengan meluangkan waktu, tenaga, keahlian atau gagasanya untuk mengembangkan bisnis warga dengan lebih imajinatif. Secara bentuk model investasi ini mengadopsi program residensi seniman, bedanya seniman akan tetap mendapatkan profit sharing dengan besaran yang telah disepakati. Untuk itu kami selaku departement akan membuat kartu saham bagi mereka yang tertarik berinvestasi dalam bentuk padat karya. 

Berikut adalah beberapa paket investasi yang kami tawarkan, berangkat dari berbagai bisnis warga yang dikelola secara kolektif :

  1. Supranatural Farming
    An agribusiness that is managed in kinship and organic-supernatural. Where each process lived with many rituals and compassion. In an effort to achieve self-sufficiency in the village, which is based on a bond and a new perspective on the process of land. Lahan pertanian ini tidak besar, hanya seluas 1400 meter persegi namun dikelola secara kolektif dengan penuh ritual diatas tanah sengketa antara warga Kampung Wates dan TNI AU. Untuk itu dengan berinvestasi dalam pertanian ini Anda juga berarti sedang berjuang bersama warga Kampung Wates dalam membuat klaim secara kultural atas tanah Wates yang selama ini terkena klaim oleh pihak TNI AU.Kami telah menjalaninya selama dua kali musim tanam dengan komoditi tanam berupa beras hitam yang juga dapat berfungsi sebagai obat diabetes, jantung hingga kanker. Pada setiap panen rata-rata kami mendapatkan hasil sebanyak 500kg dengan harga jual Rp.80.000/kg.Kami menawarkan pembagian pendapatan sebesar 30% dengan total nilai investasi sebesar Rp. 100.000.000
  2. Soil Modular
    Pabrik bata atau produk modular yang ramah lingkungan karena terbuat dari tanah dan campuran limbah padi serta tidak perlu dibakar.  Pabrik ini terbagi dalam berbagai industri rumahan yang tersebar di berbagai desa dan memanfaatkan waktu luang dari bertani.
  3. Jatiwangi Roof Tiles Museum
    Museum Genteng Jatiwangi adalah sebuah wadah untuk upaya-upaya penelitian, perjuangan, dan pembaharuan tanah di Jatiwangi. Museum Genteng Jatiwangi bergerak bersama praktisi genteng (pekerja maupun pemilik pabrik genteng) untuk perlahan mengumpulkan dan mencatat data serta fakta terkait pergentengan ini. Untuk bisa berbicara soal tanah dengan lebih bermartabat, Museum Genteng Jatiwangi yakin bahwa genteng adalah hal pertama yang layak dibicarakan.
  4. Saung CiranggonSaung Ciranggon merupakan sebuah restoran yang dikelola secara kolektif oleh masyarakat Kampung Wates. Bahan pangan yang dipakai di restoran ini diambil dari sayuran yang ditanam oleh warga dengan memanfaatkan lahan di pekaranganya. Menu-menu yang disajikan pun merupakan resep-resep andalan tetangga. Jadi setiap keluarga yang memiliki resep andalan akan dijadikan menu dari restoran dengan sistem bagi hasil secara merata dari seluruh keuntungan.
  5. Earth Housing Project
    Sebuah bisnis kontraktor perumahan warga yang dikelola secara kolektif oleh satu RW dan dipandu oleh satu biro arsitek tanah. Bisnis ini menangani pembangunan rumah ramah lingkungan dengan menggunakan tehnik rammed earth. Yakni membangun rumah menggunakan tanah dari lahan dimana rumah itu akan dibangun dengan komposisi semen hanya sebesar 1%.

    6. Make Your Investment
    Yes, you can make your own investment as long as it can be an inclusive form of business and make Jatiwangi residents as partners, not a workers.

We hope that this guidance can offer a better understanding of investing in Jatiwangi. We understood that there are still many needed to be improved – as mentioneded, it will be part of collective working through a series of workshop. Finally, we invite you to explore the opportunities to invest Jatiwangi as an art practitioner. Paririmbon Investasi Department is ready and more than happy to assist you.

Jatiwangi, March 2019

Chairman of Paririmbon Investasi

 

Ismal Muntaha

All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.
All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.