PAMERAN
Dari Tanah Kembali Ke Tanah

PAMERAN HAMPARAN KERAMAT

Melalui pameran ini kami coba mempresentasikan kerja-kerja Badan Kajian Pertanahan selama 2 tahun sejak 2017 kepada institusi pemerintahan dan warga Jatiwangi melalui sebuah pameran berjudul Hamparan Keramat di Museum Kebudayaan Tanah yang dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat – Ridwan Kamil, dan dilanjut dengan rangkaian seminar.

Keramat yang berasal dari bahasa Arab Karomah, yang berarti hortmat/menghormati/penghormatan/pemuliaan, pada pameran ini ditempatkan sebagai cara memandang wilayah yang menjadi lokasi eksperimentasi artistik terhadap lanskap kultural Jatiwangi.               

Kerja-kerja yang dipresentasikan meliputi studi terhadap kampung Wates – Desa Jatisura yang memiliki konflik tanah, lab.tanah yang bekerjasama dengan School of Design – Universitas Pelita Harapan , serta residensi seniman yang melibatkan empat kelompok riset/seni yaitu, KKK (ID), live.make.share (VNM), Arisan Tenggara (SEA), dan Rempah Embassy (ID).

Seluruh program ini juga merupakan paralel event dari Indonesian Contemporary Ceramics Biennale, yang mengusung gagasan Kota Terakota. Sebuah cita-cita jangka panjang yang sedang diupayakan oleh Jatiwangi art Factory. Mengenai bagaimana perkembangan wilayah Jatiwangi yang konteks geografisnya selama puluhan tahun merupakan lokus dari industri genteng, sehingga kesejarahan yang panjang juga bahan material yang cukup, dapat ambil peran dalam perkembangan Jatiwangi yang saat ini diproyeksikan sebagai kota industri. 

Untuk menyiapkan kematangan gagasan Kota Terakota tersebut, BKP juga menginisiasi sebuah seminar yang melibatkan institusi pemerintahan, bertajuk ‘Kebudayaan Tanah Dalam Penataan Ruang’ yang fokus membicarakan kemungkinan mewujudnya Kota Terakota melalui sinergi antara komunitas warga dan pemerintahan. Seminar ini dibuka oleh pembicara utama Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. 

Studi Kampung (Wates – Jatisura) memamerkan kumpulan arsip dan residu dari aktifitas-aktifitas kultural Badan Kajian Pertanahan dengan warga Wates yang terjadi selama ini, yang dilakukan sebagai upaya membuat klaim secara kultural atas tanah yang sejak tahun 1950 diklaim oleh pihak TNI-AU.. 

Lab.tanah didedikasikan untuk mengulik kemungkinan-kemungkinan penciptaan bentuk, desain, formula, terhadap tanah Jatiwangi yang saat ini merupakan bahan utama pembuatan genteng dan bata. Proyek perdana dari laboratorium ini bekerjasama dengan School of Design – Universitas Pelita Harapan, membuat desain modular tanah yang mengusung tema ‘Modul Untuk Masa Depan’. Pada bulan Juli 2019, hasil dari proyek ini akan mewujud kedalam bentuk museum di Kampung Wates.

Residensi seniman diarahkan untuk merespon secara langsung tema Kota Terakota yang diusung International Contemporary Ceramics Biennale, di mana Jatiwangi art Factory didaulat sebagai penyelenggara. KKK (ID) bekerjasama dengan Badan Perencanaan Daerah Majalengka menginisiasi beberapa forum yang menjadi rangkaian instrumen perencanaan kota. Forum tersebut mencoba suatu model percakapan, analisis, sekaligus proyeksi ruang Jatiwangi lewat kisah-kisah personal warga pada tiap siklus hidupnya. Kumpulan (kompleksitas) detail kehidupan yang mestinya tidak terlewat dalam dokumen formil perencanaan dan penataan ruang, baik itu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Kelompok live.make.share (VNM) yang terdiri dari Elise Luong dan Francesco Montresor melalui residensi singkatnya selama 10 hari, membuat catatan penting yang dituang kedalam beberapa dokumen, perihal pembagian kepentingan antar berbagai subjek pembangunan seperti Masyarakat, Pemerintah dan Swasta (investor), untuk dipelajari dan diteruskan oleh Badan Kajian Pertanahan dan Jatiwangi art Factory dalam mewujudkan perencanaan Kota Terakota. Catatan tersebut berdasarkan pada pengalaman tinggal dan bekerja mereka di sebuah desa dekat Hanoi yang memiliki kultur agraris yang kuat sekaligus merupakan desa industri. Lanskap tersebut mirip dengan Jatiwangi saat ini dan masa depan.

Sementara dua kelompok lain, Arisan Tenggara dan Rempah Embassy memetakan subjek penting lain sebuah wilayah di luar manusia dan sumber daya alam. Arisan Tenggara menelusuri situs-situs keramat. Situs keramat—yang memiliki latar historis dan pertalian silsilah sebagai leluhur warga—dapat menjadi stakeholder penting dalam perencanaan wilayah. Rempah Embassy memetakan pohon rempah yang selama ini hidup di dalam kisah lampau dan mitos melalui metode ziarah, yang pada hari ini semakin kehilangan maknanya di tengah industrialisasi wilayah. Melibatkan beberapa pemuka agama Islam, Rempah Embassy menghidupkan wacana etik terhadap lingkungan. Serta pola hidup sehat, melalui pengolahan rempah ke dalam produk minuman.

 FOTO LAINNYA

PAMERAN HAMPARAN KERAMAT

Melalui pameran ini kami coba mempresentasikan kerja-kerja Badan Kajian Pertanahan selama 2 tahun sejak 2017 kepada institusi pemerintahan dan warga Jatiwangi melalui sebuah pameran berjudul Hamparan Keramat di Museum Kebudayaan Tanah yang dibuka dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat – Ridwan Kamil, dan dilanjut dengan rangkaian seminar. Keramat yang berasal dari bahasa Arab Karomah, yang berarti hortmat/menghormati/penghormatan/pemuliaan, pada pameran ini ditempatkan sebagai cara memandang wilayah yang menjadi lokasi eksperimentasi artistik terhadap lanskap kultural Jatiwangi.                                                                             

Kerja-kerja yang dipresentasikan meliputi studi terhadap kampung Wates – Desa Jatisura yang memiliki konflik tanah, lab.tanah yang bekerjasama dengan School of Design – Universitas Pelita Harapan , serta residensi seniman yang melibatkan empat kelompok riset/seni yaitu, KKK (ID), live.make.share (VNM), Arisan Tenggara (SEA), dan Rempah Embassy (ID).

Seluruh program ini juga merupakan paralel event dari Indonesian Contemporary Ceramics Biennale, yang mengusung gagasan Kota Terakota. Sebuah cita-cita jangka panjang yang sedang diupayakan oleh Jatiwangi art Factory. Mengenai bagaimana perkembangan wilayah Jatiwangi yang konteks geografisnya selama puluhan tahun merupakan lokus dari industri genteng, sehingga kesejarahan yang panjang juga bahan material yang cukup, dapat ambil peran dalam perkembangan Jatiwangi yang saat ini diproyeksikan sebagai kota industri. 

Untuk menyiapkan kematangan gagasan Kota Terakota tersebut, BKP juga menginisiasi sebuah seminar yang melibatkan institusi pemerintahan, bertajuk ‘Kebudayaan Tanah Dalam Penataan Ruang’ yang fokus membicarakan kemungkinan mewujudnya Kota Terakota melalui sinergi antara komunitas warga dan pemerintahan. Seminar ini dibuka oleh pembicara utama Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat.

Studi Kampung (Wates – Jatisura) memamerkan kumpulan arsip dan residu dari aktifitas-aktifitas kultural Badan Kajian Pertanahan dengan warga Wates yang terjadi selama ini, yang dilakukan sebagai upaya membuat klaim secara kultural atas tanah yang sejak tahun 1950 diklaim oleh pihak TNI-AU.. 

Lab.tanah didedikasikan untuk mengulik kemungkinan-kemungkinan penciptaan bentuk, desain, formula, terhadap tanah Jatiwangi yang saat ini merupakan bahan utama pembuatan genteng dan bata. Proyek perdana dari laboratorium ini bekerjasama dengan School of Design – Universitas Pelita Harapan, membuat desain modular tanah yang mengusung tema ‘Modul Untuk Masa Depan’. Pada bulan Juli 2019, hasil dari proyek ini akan mewujud kedalam bentuk museum di Kampung Wates.

Residensi seniman diarahkan untuk merespon secara langsung tema Kota Terakota yang diusung International Contemporary Ceramics Biennale, di mana Jatiwangi art Factory didaulat sebagai penyelenggara. KKK (ID) bekerjasama dengan Badan Perencanaan Daerah Majalengka menginisiasi beberapa forum yang menjadi rangkaian instrumen perencanaan kota. Forum tersebut mencoba suatu model percakapan, analisis, sekaligus proyeksi ruang Jatiwangi lewat kisah-kisah personal warga pada tiap siklus hidupnya. Kumpulan (kompleksitas) detail kehidupan yang mestinya tidak terlewat dalam dokumen formil perencanaan dan penataan ruang, baik itu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Kelompok live.make.share (VNM) yang terdiri dari Elise Luong dan Francesco Montresor melalui residensi singkatnya selama 10 hari, membuat catatan penting yang dituang kedalam beberapa dokumen, perihal pembagian kepentingan antar berbagai subjek pembangunan seperti Masyarakat, Pemerintah dan Swasta (investor), untuk dipelajari dan diteruskan oleh Badan Kajian Pertanahan dan Jatiwangi art Factory dalam mewujudkan perencanaan Kota Terakota. Catatan tersebut berdasarkan pada pengalaman tinggal dan bekerja mereka di sebuah desa dekat Hanoi yang memiliki kultur agraris yang kuat sekaligus merupakan desa industri. Lanskap tersebut mirip dengan Jatiwangi saat ini dan masa depan.

Sementara dua kelompok lain, Arisan Tenggara dan Rempah Embassy memetakan subjek penting lain sebuah wilayah di luar manusia dan sumber daya alam. Arisan Tenggara menelusuri situs-situs keramat. Situs keramat—yang memiliki latar historis dan pertalian silsilah sebagai leluhur warga—dapat menjadi stakeholder penting dalam perencanaan wilayah. Rempah Embassy memetakan pohon rempah yang selama ini hidup di dalam kisah lampau dan mitos melalui metode ziarah, yang pada hari ini semakin kehilangan maknanya di tengah industrialisasi wilayah. Melibatkan beberapa pemuka agama Islam, Rempah Embassy menghidupkan wacana etik terhadap lingkungan. Serta pola hidup sehat, melalui pengolahan rempah ke dalam produk minuman.

FOTO LAINNYA

All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.
All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.