PROject
Dari Tanah Kembali Ke Tanah

COOKING BATTLE – MUSTI KARASA

Selama proses riset beberapa bulan ke belakang, kami mendapat cerita bahwa tanaman palawija merupakan pangan utama para pendahulu untuk bertahan di masa penjajahan. Misalnya saja, bonggol (batang bawah) pohon pisang. Cara masaknya cukup direbus dan siap untuk dimakan. Ketika kami mencobanya, rasa yang hambar tidak cocok untuk lidah generasi kami yang tumbuh dengan makanan kemasan. 

Musti Karasa berarti ‘Harus Terasa’, artinya, terasa sedapnya. Sesuai dengan kultur pangan sejak Orde Baru, di mana industri pangan dimulai secara masif. Acara ini mencoba untuk menjadikan palawija sebagai makanan utama. Pada edisi Palawija ini kami mengundang Ibu-Ibu dari Kelompok Wanita Tani Kampung Wates,  yang dalam beberapa tahun ini menggas program tanam palawija di pekarangan rumah sebagai strategi ketahanan pangan rumah tangga. Para Ibu-Ibu tangguh ini bertarung mengadu resep dengan Moyo Nutrisi Besar seorang lulusan sekolah pariwisata Bandung jurusan kitchen yang kini aktif juga sebagai production manager di JaF TV. Mereka berdua mengolah resep-resep lampau Jatiwangi menjadi menu baru yang “Musti Karasa” sedapnya.

Menu Tantangan :

Batang Pohon Pepaya

Setelah Belanda menyerah terhadap Jepang lewat sebuah perjanjian di Kalijati Subang, Hindia Belanda pun dengan serta merta dikuasai oleh Jepang. Tentara Jepang menjadi sosok yang sangat misterius—setidaknya bagi oran Jatiwangi. Mereka seakan muncul begitu saja dari bawah laut, lalu dalam waktu singkat dapat menaklukan Belanda yang telah menguasai Hindia Belanda selama ratusan tahun. Beberapa orang tua di Jatiwangi bahkan mengingat tentara Jepang sebagai manusia berlengan pendek namun lincah dan memakan makanan yang tak biasa. Diantaranya adalah ular dan pohon pepaya.

Bonggol Pisang

Semasa Perang Dunia II, Pulau Jawa diduduki oleh Jepang selama tiga setengah tahun. Kebijakan-kebijakan Jepang terhadap masyarakat pribumi bertujuan untuk memperoleh sumber daya ekonomi dan manusia guna mendukung operasi militer Jepang. Oleh karena itu, produksi dan distribusi panen, serta bahan komoditas ditempatkan di bawah kontrol pemerintah, dengan prioritas pasokan diberikan untuk pasukan militer. Akibatnya masyarakat mengalami kekurangan makanan, bahkan tak sedikit yang mengalami kelaparan. Hingga tak heran, makanan-makanan yang tidak biasa dikonsumsi pun di olah menjadi makanan hanya sekedar untuk mengganjal perut. Diantaranya adalah Bonggol Pisang.

Onggok

Setelah peristiwa GESTAPU, Indonesia memasuki babak pemerintahan Orde Baru dibawah Jendral Soeharto yang kemudian menjadi rezim yang otoriter. Rezim ini mengusung REPELITA sebagai tonggak pembangunan. Diantaranya adalah Revolusi Hijau yang menggenjot produksi beras secara besar-besaran di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dalam perjalananya, kebijakan ini perlahan menggeser berbagai bahan pokok makanan masyarakat Indonesia diantaranya sagu, jagung dan singkong. Di Jatiwangi sendiri kami mengenal Onggok yang berbahan dasar singkong. Hari ini onggok sangat identik dengan makanan orang miskin.

Menu Olahan Kelompok Wanita Tani 

    

Menu Olahan Moyo Nutrisi Besar

project
Dari Tanah Kembali Ke Tanah

COOKING BATTLE – MUSTI KARASA

Selama proses riset beberapa bulan ke belakang, kami mendapat cerita bahwa tanaman palawija merupakan pangan utama para pendahulu untuk bertahan di masa penjajahan. Misalnya saja, bonggol (batang bawah) pohon pisang. Cara masaknya cukup direbus dan siap untuk dimakan. Ketika kami mencobanya, rasa yang hambar tidak cocok untuk lidah generasi kami yang tumbuh dengan makanan kemasan. 

Musti Karasa berarti ‘Harus Terasa’, artinya, terasa sedapnya. Sesuai dengan kultur pangan sejak Orde Baru, di mana industri pangan dimulai secara masif. Acara ini mencoba untuk menjadikan palawija sebagai makanan utama. Pada edisi Palawija ini kami mengundang Ibu-Ibu dari Kelompok Wanita Tani Kampung Wates,  yang dalam beberapa tahun ini menggas program tanam palawija di pekarangan rumah sebagai strategi ketahanan pangan rumah tangga. Para Ibu-Ibu tangguh ini bertarung mengadu resep dengan Moyo Nutrisi Besar seorang lulusan sekolah pariwisata Bandung jurusan kitchen yang kini aktif juga sebagai production manager di JaF TV. Mereka berdua mengolah resep-resep lampau Jatiwangi menjadi menu baru yang “Musti Karasa” sedapnya.

Menu Tantangan :

Batang Pohon Pepaya

Setelah Belanda menyerah terhadap Jepang lewat sebuah perjanjian di Kalijati Subang, Hindia Belanda pun dengan serta merta dikuasai oleh Jepang. Tentara Jepang menjadi sosok yang sangat misterius—setidaknya bagi oran Jatiwangi. Mereka seakan muncul begitu saja dari bawah laut, lalu dalam waktu singkat dapat menaklukan Belanda yang telah menguasai Hindia Belanda selama ratusan tahun. Beberapa orang tua di Jatiwangi bahkan mengingat tentara Jepang sebagai manusia berlengan pendek namun lincah dan memakan makanan yang tak biasa. Diantaranya adalah ular dan pohon pepaya.

Bonggol Pisang

Semasa Perang Dunia II, Pulau Jawa diduduki oleh Jepang selama tiga setengah tahun. Kebijakan-kebijakan Jepang terhadap masyarakat pribumi bertujuan untuk memperoleh sumber daya ekonomi dan manusia guna mendukung operasi militer Jepang. Oleh karena itu, produksi dan distribusi panen, serta bahan komoditas ditempatkan di bawah kontrol pemerintah, dengan prioritas pasokan diberikan untuk pasukan militer. Akibatnya masyarakat mengalami kekurangan makanan, bahkan tak sedikit yang mengalami kelaparan. Hingga tak heran, makanan-makanan yang tidak biasa dikonsumsi pun di olah menjadi makanan hanya sekedar untuk mengganjal perut. Diantaranya adalah Bonggol Pisang.

Onggok

Setelah peristiwa GESTAPU, Indonesia memasuki babak pemerintahan Orde Baru dibawah Jendral Soeharto yang kemudian menjadi rezim yang otoriter. Rezim ini mengusung REPELITA sebagai tonggak pembangunan. Diantaranya adalah Revolusi Hijau yang menggenjot produksi beras secara besar-besaran di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dalam perjalananya, kebijakan ini perlahan menggeser berbagai bahan pokok makanan masyarakat Indonesia diantaranya sagu, jagung dan singkong. Di Jatiwangi sendiri kami mengenal Onggok yang berbahan dasar singkong. Hari ini onggok sangat identik dengan makanan orang miskin.

Menu Olahan Kelompok Wanita Tani 

    

Menu Olahan Moyo Nutrisi Besar

All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.
All work on this site is licensed under an Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Creative Commons License.